Posted by: Eka Oktariyanto Nugroho | June 26, 2008

Ironi beasiswa DIKTI 1

Well, setelah sekian lama akhirnya ingin juga rasanya menulis sesuatu di blog ini. So, finally this day I start to write. Dari sekian banyak renungan yang ingin saya tuliskan ternyata topik tentang pendidikan sangat menarik untuk dibahas. Hal ini terlebih karena saya dibesarkan di suatu negara yang masih berkembang, dalam istilah kerennya the third world…..hahahhaa….Mau tidak mau kita memang harus mengakui bahwa Indonesia memang negara terbelakang, beda memang dengan negara-negara di belahan afrika sana yang memang “real third word”. Terbelakang disini lebih saya fokuskan pada dunia pendidikan.

Saat ini saya sedang menunggu berita pengumuman beasiswa dari DIKTI yang nota bene adalah salah satu perangkat organisasi pemerintah yang bertanggung jawab di bidang pendidikan. Sejak awal pendaftaran hingga saat ini banyak ketimpangan yang terjadi dalam penerimaan beasiswa tersebut.

Ketimpangan ini adalah mengenai hak dan kewajiban yang harus dijalani sebagai pelamar beasiswa tersebut. Saya tidak merasakan langsung mengenai hal ini karena saya menyusun aplikasi ini dari luar Indonesia. Bagi teman-teman seperjuangan di Indonesia, saya rasa sangat membikin pusing, jengkel, senang, bahagia….campur aduk.

Satu hal yang menjadi ironi, kalau kita sebagai pelamar beasiswa diharuskan untuk selalu menepati waktu. Baik itu batas pengiriman aplikasi, jadwal wawancara, kewajiban menyediakan Letter of Acceptance dari Universitas yang dituju, korespondensi dengan Professor yang akan menjadi pembimbing kita dsb dsb, dimana sanksi terhadap keterlambatan atas tidak menepati waktu itu adalah GUGUR. Namun ketika pihak DIKTI tidak menepati waktu nya…spt pengunduran waktu wawancara, pengumuman tiap tahap yang dilalui bahkan sampai pencairan dana beasiswa tersebut, tidak ada sama sekali perkataan maaf dalam penyertaan pengumuman penundaan maupun pemberitahuan-pemberitahuan yang dilakukan oleh DIKTI.

Satu hal kita dididik disini, Murid adalah cerminan Guru. Guru adalah DIKTI, Murid adalah pelamar (yang kebanyakan dosen juga…yang artinya juga guru). Dengan segala kasus yang ada tersebut, secara tidak langsung kita dididik untuk melakukan tindakan yang sama dengan pendidik kita. Bagi yang sudah mempunyai prinsip-prinsip yang yang jelas dalam dunia pendidikan, hal ini tidak bermasalah, tetapi yang masih gamang?…..???

DIKTI sebagai guru telah mengajarkan sesuatu yang salah, dan semoga murid-muridnya bisa mencari dan mendapatkan solusi mengenai sesuatu yang salah ini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: